Bahas Visi, BAPETEN memberi masukan untuk STTN


Rabu, 31 Januari 2018 - 15:16:43 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 96 kali


(Yogyakarta, 31/1/18). Dalam rangka mendapatkan masukan untuk perumusan visi STTN serta persiapan rencana strategis (renstra) tahun 2020, pada hari Jum’at, 26 Januari 2018 dilaksanakan pertemuan antara senat Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN - BATAN) dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang bertempat di STTN.

 

Drs. Hendriyanto Hadi Tjahyono, M. Sc selaku Sekretaris Utama BAPETEN dalam presentasinya menyampaikan bahwa STTN dan perguruan tinggi lain yang bergerak dalam bidang nuklir merupakan institusi yang membantu BAPETEN dalam pengembangan tenaga nuklir. Hal ini dikarenakan dalam beberapa persyaratan izin selalu dipersyaratkan harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi, diantaranya adalah para alumni STTN. “Biasanya persyaratan kompetensi dipenuhi dengan cara diklat, namun dengan cara ini peserta masih dirasa belum mendapatkan pengalaman. Hal ini akan berbeda dengan alumni STTN yang telah mempelajari dan mempraktekkan teknologi nuklir selama empat tahun belajar di STTN,” jelas Hendri.

 

Lebih lanjut Hendri menjelaskan, fisika medis adalah satu-satunya kompetensi yang tidak didapat dari diklat tapi harus dari pendidikan. Hal ini menjadi peluang bagi STTN untuk mengakomodir dengan cara membuka program studi baru atau sebagai penekanan minat program studi. “Indonesia saat ini masih sangat kekurangan SDM untuk bidang Petugas Proteksi Radiasi (PPR), Fisika Medis dan Petugas Keamanan Sumber Radioaktif (PKSR). Ini prospek yang sangat bagus bagi STTN,” lanjutnya.

 

Lapas, Kepolisian, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat ini juga memerlukan banyak SDM teknologi nuklir. Penggunaan Iradiator dan Mesin Berkas Elektron (MBE) sudah mulai banyak dilirik  oleh masyarakat. Selain itu, komisi VII DPR meminta agar menghapus kalimat “nuklir adalah opsi terakhir”, artinya masyarakat sekarang sudah mulai terbuka dengan nuklir, dan pemerintahpun sudah mulai melakukan perhitungan untuk membandingkan PLTN dengan PLT lain.

 

“STTN tidak perlu minder dengan statusnya sebagai perguruan tinggi vokasional, karena vokasional mempunyai kriteria yang lebih baik untuk mengisi berbagai peluang tenaga kerja. Posisi Indonesia saat ini tidak sedang mendesain teknologi, tapi sedang membuat dan memperbaiki teknologi yang ada, sehingga SDM dari Politeknik lebih memiliki kecocokan dengan yang dibutuhkan Indonesia. Oleh karena itu beliau berharap agar STTN segera melalukan pengembangan – pengembangan sebagai perguruan tinggi vokasional,” demikian Hendri berpesan.

 

Berdasarkan saran dan masukan dari Sestama BAPETEN ini, menunjukkan bahwa fungsi dan prospek STTN ke depan adalah sangat strategis bagi perkembangan teknologi nuklir Indonesia. Hal ini menjadi bekal penting bagi penyusunan visi STTN, sehingga cita-cita untuk menjadi perguruan tinggi yang mendunia akan dapat tercapai. (sp/tek)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
Top
  • Follows us our servcies