IAEA Regional Training Course 2018 diselenggarakan di Kampus Nuklir Yogyakarta


Selasa, 17 April 2018 - 16:31:36 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 1614 kali


(Yogyakarta, 16/4/18). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN) menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan Regional Training Course for Teachers to Introduce Nuclear Sciences in Secondary Schools through Innovative Approaches IAEA yang pertama. Kegiatan baru ini dirumuskan dan diusulkan dalam IAEA Meeting Forum (Pilot Project Compendium, IAEA) pada tahun 2017 yang juga diselenggarakan di STTN. Diikuti oleh 28 peserta dari 16 negara (Kamboja, China, Jordania, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Oman, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Indonesia dan Lebanon), kegiatan Regional Training Course akan berlangsung selama 2 minggu, dimulai dari tanggal 16 sampai dengan 27 April 2018.

 

Kepala BATAN, Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa Regional Training Course sangat penting untuk mendukung keberlanjutan ketersediaan sumber daya manusia bidang iptek nuklir. “Sebagai contoh, di Indonesia kami menghadapi tantangan dimana lebih dari 60% pegawai aktif di BATAN berusia di atas 45 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kita perlu menyiapkan generasi muda dengan pengetahuan iptek nuklir yang kuat untuk meneruskan program nuklir di Indonesia. Tahun 2017, BATAN melakukan penerimaan 93 pegawai baru dari generasi muda untuk bergabung membagi peran memajukan iptek  nuklir,” terang beliau.

 

Lebih lanjut beliau menjelaskan, bahwa generasi muda saat ini memiliki sifat yang lebih realistis terhadap tantangan dunia modern, seperti dalam bidang energi dan diversifikasi sumber energi. Untuk itu peran guru menjadi sangat penting dalam menyiapkan pengetahuan iptek nuklir bagi generasi muda. “Guru adalah pengajar bagi siswanya. Saya berharap program ini bisa membawa guru-guru untuk mengerti dan bisa menjelaskan bahwa nuklir itu sahabat kita. Nuklir bagian dari kehidupan kita,” harapnya. Selain itu, Djarot juga berharap agar program ini dapat terus berlanjut dan mendukung Indonesia serta negara anggota lain dalam pengembangan edukasi nuklir.

 

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Sunil Shabarwal, representatif dari IAEA menyampaikan tujuan dilaksanakannya Training Course adalah untuk menjadikan guru sebagai duta besar iptek nuklir dalam dunia pendidikan serta membawa pengetahuan dan ilmu nuklir melalui penyampaian yang inovatif dan menarik. “Guru adalah orang yang bisa memastikan apa yang dipahami oleh siswanya. Oleh karena itu, guru memiliki peran yang besar dan penting untuk mengenalkan teknologi nuklir kepada siswanya,” jelasnya.

 

Pelaksanaan Regional Training Course ini didesain selama dua minggu. Minggu pertama diisi dengan materi untuk memperkuat pengetahuan dasar teknis para guru mengenai kenukliran, minggu kedua diisi dengan sharing pengalaman dari para guru dan praktisi yang sudah terlibat di awal dalam program Regional Training Course, serta berbagi pengalaman tentang pendekatan inovatif untuk memperkenalkan iptek nuklir kepada generasi muda. Menurut Sunil, IAEA melihat bahwa STTN memiliki potensi luar biasa dalam penyelenggaraan pendidikan nuklir ketika menjadikan host dalam IAEA Meeting Forum pada tahun 2017 dan sangat sesuai untuk pelaksanaan Regional Training Course yang pertama bagi para guru se-Asia Pasifik kali ini dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di STTN dan akan berlangsung untuk 4 tahun ke depan. (tek)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • SDMIN 2018
Top
  • Follows us our servcies