Direktur MEL IAEA : Jepara Potensial Menjadi Laboratorium Lingkungan Kelautan Terpadu


Jumat, 27 Juli 2018 - 11:12:38 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 214 kali


Jepara, 18 Juli 2018. Dalam kunjungan kerjanya selama tiga hari di Indonesia yaitu tanggal 16 - 18 Juli 2018, Mr. David Osborn, Direktur Marine Environmental Laboratories (MEL) dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) berkesempatan melihat secara langsung Loka Pemantauan Tapak dan Lingkungan (LPTL) Jepara milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Laboratorium Kelautan dan Oceanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) – Universitas Diponegoro. Kegiatan dilanjutkan diskusi dengan staf BATAN Jepara dan dosen serta pimpinan FPIK Universitas Diponegoro.

 

Kunjungan Mr. David Osborn ke Jepara dan Semarang selama 2 hari, yang didampingi oleh Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Edy Giri Rachman Putra, Ph. D bertujuan untuk menindaklanjuti  penguatan kerjasama Indonesia, khususnya perguruan tinggi serta pemangku kepentingan nasional lainnya dengan IAEA dalam memperluas pemanfaatan teknik nuklir dan isotop untuk mendukung kebijakan nasional di bidang lingkungan kelautan.

 

STTN sangat berkepentingan dalam kegiatan di atas dalam rangka pengembangan beberapa laboratorium di Jepara, mengingat seluruh fasilitas dan aset yang ada di Jepara akan dialih-fungsikan mulai tahun 2019 menjadi fungsi pendidikan dan dikelola langsung oleh STTN dalam mendukung pelaksanan tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Alih fungsi juga dimaksudkan dalam rangka preservasi ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk studi lingkungan. Preservasi menjadi penting dilakukan terutama kepada mahasiswa (generasi muda) tentang pemanfaatan teknik nuklir dan isotop dalam mengidentifikasi masalah lingkungan khususnya kelautan, termasuk ancaman polutan non-radioaktif seperti pestisida, logam berat, dan tumpahan minyak bumi, ketersediaan sumber pangan akibat eksploitasi dan keberlangsungan kehidupan terumbu karang, dan pemanasan global dengan adanya sejumlah kegiatan dan aktivitas industri, pembangunan pantai, dan transportasi laut.

 

Diskusi secara intensif juga berlangsung saat Dr. David Osborn berkunjung ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Diponegoro yang diterima oleh Dekan Fakultas, Prof. Dr. Ir. Agus Sabdono, M.Si, beserta jajarannya. Pemanfaatan teknik nuklir telah digunakan oleh salah satu dosen FPIK Undip, Prof. Ir. Muslim, M. Sc, Ph.D, bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR)  – BATAN, Dr. Heny Suseno, karena memberikan hasil yang presisi, memperlihatkan gambaran perubahan sampai yang sangat kecil. Pemanfaatan iptek nuklir tersebut digunakan untuk mempelajari ekologi laut. Keunggulan inilah, yang disampaikan oleh Prof. Muslim dalam penelitian yang dilakukannya. Beliau juga mendorong agar teknik nuklir dapat ditingkatkan pemanfaatannya bagi dosen-dosen di FKIP dalam melakukan penelitian lingkungan kelautan. 

 

Melihat potensi 2 buah Laboratorium Kelautan yang dimiliki FPIK Universitas Diponegoro di daerah Jepara, yaitu di Teluk Awur dan Pantai Kartini serta Loka Pemantauan Tapak dan Lingkungan (LPTL) yang dimiliki BATAN, menurut Mr. David Osborn, Laboratorium Kelautan tersebut sangat potensial dikembangkan dengan didukung Laboratorium Radioekologi dan Radiometri menjadi Laboratorium Lingkungan Kelautan Terpadu. Laboratorium dapat digunakan untuk mempelajari berbagai proses lingkungan di laut dengan memanfaatkan teknik nuklir dan isotop. Sekaligus juga menjadi sarana untuk pendidikan dalam rangka pengembangan kapasitas (capacity building) sumber daya manusia terhadap iptek nuklir, tidak hanya di level nasional tetapi juga regional maupun internasional. (egp)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • SDMIN 2018
Top
  • Follows us our servcies