Pengembangan Loka Jepara sebagai Laboratorium Radioekologi STTN


Rabu, 08 Agustus 2018 - 04:26:54 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 42 kali


(Yogyakarta, 7/8/18). Sebagai tindaklanjut kunjungan kerja Mr. David Osborn, Direktur Marine Environmental Laboratories (MEL) dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) di Indonesia, tanggal 16 - 18 Juli 2018 yang melihat secara langsung Loka Pemantauan Tapak dan Lingkungan (LPTL) – Loka Jepara milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Laboratorium Kelautan dan Oceanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) – Universitas Diponegoro, maka diselenggarakan Rapat Koordinasi atau Focused Group Disscusion (FGD) pada hari Rabu, 1 Agustus 2018 antara Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN – BATAN) dengan Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR - BATAN) di Pasar Jum’at, Jakarta.

 

Diskusi ini dilakukan mengingat PTKMR merupakan unit kerja di BATAN yang memiliki tugas dan fungsi melaksanakan litbang dan layanan pengujian/kalibrasi di bidang lingkungan dan metrologi radiasi. Dengan dialih-fungsikannya Loka Jepara dari Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir (PKSEN – BATAN) pada tahun 2019 ke STTN, maka Loka Jepara diharapkan menjadi pendukung pelaksanan tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka preservasi ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk studi lingkungan.

 

Dalam diskusi, Drs. Abarrul Ikram, MSc., Ph.D selaku Kepala PTKMR berharap kerja sama antara PTKMR dan STTN akan membawa kebaikan untuk kedua belah pihak. “STTN dengan fasilitas laboratorium dan mahasiswanya, dan PTKMR dengan expertisenya dalam bidang radioekologi menjadi tidak direpotkan oleh hal-hal teknis, karena dibantu mahasiswa STTN,” jelasnya lebih lanjut.

 

Edy Giri Rachman Putra, Ph.D selaku Ketua STTN menyampaikan bahwa tahun depan Loka Jepara akan dikelola STTN menjadi Kampus STTN Jepara. “Kampus STTN Jepara akan digunakan sepenuhnya untuk kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi,” sambungnya. Lebih lanjut, Edy Giri menjelaskan bahwa di Loka Jepara saat ini terdapat Laboratorium Metrologi dan Seismik yang masih berfungsi dengan baik, sementara Laboratorium Radioekologi sudah tidak berfungsi.

 

Sementara itu, Dr. Heny Suseno dari PTKMR menyampaikan bahwa kelak STTN sebagai pengelola Laboratorium di Jepara, perlu mengembangkan sebagai inkubator riset/teknologi secara efektif sebagai implementasi tridharma perguruan tinggi. Harapannya, kerja sama antara PTKMR dan STTN dapat terbentuk secara menyeluruh, bukan hanya terkait dengan bidang radioekologi. STTN sebagai lembaga pendidikan vokasi, perlu menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap kerja, dengan merencanakan membuka program studi baru. “Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, kami merekomendasikan penggunaan laboratorium di Jepara agar penggunaan menjadi lebih kompreshensif, maka laboratorium yang berlokasi di Mlonggo dijadikan Laboratorium Kelautan (Radioekologi), dan laboratorium di Ujung Watu tetap digunakan sebagai Laboratorium Metrologi dan Seismik,” imbuhnya. (fn/ha/tek)



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • SDMIN 2018
Top
  • Follows us our servcies