Naufal, Mengganti Kekhawatiran Orang Tua dengan Prestasi


Selasa, 04 September 2018 - 14:21:54 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 458 kali


(Yogyakarta, 4/9/18). Naufal Alif Syarifuddin yang akrab disapa Naufal adalah salah satu dari 101 mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir- Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) angkatan 2014 yang akan diwisuda pada tanggal 4 September 2018. Ia lahir di Jepara pada tanggal 9 Juli 1996. Awalnya dia sempat tidak direstui oleh orang tua untuk mengambil kuliah tentang kenukliran, namun dengan perjuangannya yang gigih untuk meyakinkan orang tuanya akhirnya diperbolehkan untuk mendaftarkan diri ke STTN-BATAN dan di terima di Jurusan Teknokimia Nuklir. “Saya waktu SMA tidak terlalu suka kimia dan cenderung lebih suka fisika. Namun karena di STTN ada Jurusan Teknokimia Nuklir (TKN), membuat saya penasaran, akhirnya saya mencoba untuk mendaftar di Jurusan tersebut”, kenangnya. Memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.86 dan menjadi lulusan terbaik kedua Prodi Teknokimia Nuklir, Naufal mengganti apa yang menjadi kekhawatiran orang tua menjadi satu prestasi yang terbukti.

 

Kegiatan perkuliahan Naufal di isi dengan fokus belajar akademik serta menyeimbangkannya dengan kegiatan non akademik. “Kuliah saya tidak melulu belajar di kelas dan cari IP saja, tapi saya isi dengan kegiatan yang bermanfaat di luar itu sesuai keinginan dan minat saya,”: katanya. Baginya kegiatan akademik difokuskan untuk menambah pengetahuan mengenai keteknikkimiaan dan kenukliran melalui belajar langsung dari dosen, diskusi dengan teman maupun baca artikel ilmiah secara disiplin dan komprehensif yang mengantarkannya untuk mendalami disiplin ilmu mengenai Teknologi Proses dan Ilmu Material.

 

Pengalaman berharga di bidang akademik didapatnya saat melakukan Kerja Praktik di Laboratorium Induk Kimia dan Material (Labinkimat) Dislitbang TNI AL, Surabaya selama 6 minggu penuh. Selama di Labinkimat Dislitbangal ia banyak belajar mengenai ilmu analisis dan quality control mengenai material kapal Angkatan Laut sebelum dipasang. Pengetahuan soft skill juga didapatnya disana, seperti bagaimana membangun budaya kerja, kepemimpinan dan disiplin waktu.

 

Kegiatan non akademik diisi dengan organisasi dan penyaluran hobi. Mahasiswa yang memiliki hobi futsal dan tenis lapangan ini pernah menjadi salah satu punggawa tim futsal prodi TKN dan STTN. Ia tercatat pernah dua kali mengikuti OPTK cabang olahraga futsal pada tahun 2015 di STP Jakarta dan 2016 di PKN-STAN Tangerang Selatan. Prestasi tertinggi yang pernah diraih di bidang futsal adalah saat membawa prodi TKN merengkuh Juara III Presma Cup 2016 Se-DIY yang diselenggarakan oleh Presma FTB UAJY.

 

Naufal juga aktif dalam kegiatan organisasi baik di dalam kampus maupun diluar kampus. Organisasi dalam kampus ia aktif di Himpunan Mahasiswa (HIMA) TKN dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Futsal. Ia pernah menjadi pengurus Divisi Ristek dan Kadep Eksternal HIMA TKN sedangkan di UKM Futsal ia tercatat pernah menjadi divisi perlengkapan dan kepelatihan. Di luar kampus, ia merupakan anggota aktif Komunitas Muda Nuklir Nasional sejak tahun 2015 bahkan ia merupakan mantan Kepala Departemen Hubungan Masyarakat masa kepengurusan 2016/2017.

Dari pengalamannya di organisasi banyak hal yang didapat olehnya termasuk networking dan pengetahuan baru. Ia juga sering ikut terjun langsung untuk memasyarakatkan iptek nuklir ke berbagai kalangan, termasuk masyarakat desa, petani dan siswa-siswi SMA.

 

“Memasyarakatkan iptek nuklir itu banyak tantangannya karena di awal kita sudah dibikin takut dengan mindset bahwa nuclear is a bomb, tapi fakta yang lain kita belum tahu. Jadi dari kasus-kasus tersebut maka saya tergerak untuk memasyarakatkan nuklir melalui penyampaian yang fair,” katanya.

 

Belajar mengenai Teknologi Proses dan Ilmu Material mengantarkannya untuk mengambil judul Tugas Akhir mengenai transformasi limbah menjadi material maju. Di bawah bimbingan Ibu Maria Christina Prihatiningsih, M.Eng dan Ibu Nilats Tsurayya, M.Sc ia berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya yang berjudul “Sintesis dan Karakterisasi SBA-16 dari Limbah Padat Geotermal dengan Variasi Suhu Sintesis dan Waktu Kalsinasi”.

 

Dalam tugas akhirnya tersebut ia telah melakukan sintesis mesopori silika (SBA-16) dengan menggunakan limbah padat geotermal dimana limbah ini belum termanfaatkan secara optimal dan masih menjadi masalah di pembangkit listrik tenaga geotermal padahal memiliki kandungan silika yang tinggi. “Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan karena saat proses penelitian saya mengalami banyak kegagalan bahkan pernah satu bulan “ngelab” tanpa mendapatkan hasil apapun. Tapi itu malah membuat saya bersemangat karena jatah gagal saya sudah berkurang untuk mencapai keberhasilan dan saya menjadi tahu mengenai fenomena lain yang mempengaruhi sintesis. Plong rasanya saat dewan penguji menyatakan bahwa saya lulus”, kenangnya. Ia juga berharap penelitiannya ini bisa bermanfaat untuk banyak pihak.

 

Naufal berpesan kepada adik tingkat untuk senantiasa disiplin secara akademik tanpa melupakan kegiatan non akademik dan menjaga diri untuk menjadi pribadi yang baik. “Jangan takut untuk mencoba, gagal tidak masalah, jangan takut gagal, setiap kesulitan pasti ada kemudahan. No gain without pain, so don’t surrender because we can win. Terima kasih STTN”, imbuhnya. (dab)



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies