Bahari, Mahasiswa STTN yang Miliki Segudang Prestasi Desain Grafis


Selasa, 04 September 2018 - 14:26:46 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 65 kali


(Yogyakarta, 4/9/18). Kuliah di Perguruan Tinggi Kedinasan tidak menghambat kreativitas. Begitulah pandangan Muhamad Setyawan Bahari, mahasiswa program studi Elektronika Instrumentasi Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN). Bahari, begitu panggilan akrabnya, kerap kali menorehkan prestasi di bidang non akademik. Mahasiswa yang masuk ke STTN-BATAN di tahun 2014 melalui Jalur Program Unggulan Sekolah tersebut memiliki kegemaran yang unik. Meskipun berlatar belakang keteknikan, mahasiswa kelahiran Lampung ini mengaku sangat tertarik pada desain grafis dan sinematografi.

 

Segudang prestasi di bidang desain grafis dan sinematografi sudah ia torehkan selama menjadi mahasiswa. Pada tahun 2015 ia pernah mengikuti Lomba Desain Logo 71 Wajah Indonesia. Lomba tersebut merupakan acara rutin yang dilakukan oleh Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dalam rangka memeringati kemerdekaan Indonesia. Dirinya mampu menyabet juara kedua dalam kontes tersebut dengan karya logonya yang berjudul “Burung Surga, Permadani Bangsa”. Ia berhasil membuat logo berbentuk angka 71 yang terinspirasi burung cendrawasih kebanggaan masyarakat Papua.

 

Pria kelahiran tahun 1995 ini juga pernah menjadi utusan STTN-BATAN untuk Olimpiade Perguruan Tinggi Kedinasan (OPTK) 2016 di Politeknik Keuangan Negara STAN. Ia bersama tim membuat film pendek dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana. Keterbatasan tersebut membuat Bahari yang bertindak sebagai sutradara sekaligus script writer tidak kehabisan akal. Meskipun alat yang digunakan syuting terbatas, ia berusaha menonjolkan jalan cerita yang unik dan teknik editing yang ciamik. Semua ilmu mengenai film pendek dipelajarinya secara otodidak melalui platform video Youtube.

 

Usahanya tidak sia-sia, pasalnya film “HAP” yang dibuat bersama dengan timnya berhasil membuktikan kegigihannya di tingkat nasional dengan meraih medali emas dalam cabang Sinematografi OPTK 2016. “Jujur kami (tim sinematografi) tidak menyangka, sebab ini pertama kalinya kami mengikuti kontes di tingkat nasional dengan segala keterbatasan yang ada”, ungkap Bahari tidak percaya.

 

Di tahun terakhir masa kuliahnya, Bahari masih mengikuti kompetisi. Pada tahun 2017 ia mengikuti Lomba Poster 72 Wajah Indonesia yang juga diadakan oleh Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Ia mencoba membuat poster meskipun berada di sela-sela Ujian Komprehensif, yang merupakan ujian wajib diikuti mahasiswa tingkat akhir STTN-BATAN.

 

Poster karyanya tersebut berhasil menjadi yang terbaik Se-Jawa Tengah dan DIY dan keluar sebagai juara pertama. Karyanya juga berhasil di bukukan dalam kumpulan karya-karya 72 Wajah Indonesia. Ia mengatakan bahwa kunci dari keberhasilannya selama ini adalah fokus dan jangan pernah berhenti belajar. “Jangan jadikan keterbatasan sebagai hambatan dalam berkarya, malah jadikan hal tersebut sebagai motivasi”, imbuhnya. 

 

Awal mula ketertarikan Bahari di bidang desain grafis dan sinematografi dimulai saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga terus berkembang melalui berbagai keorganisasian dan kepanitiaan di STTN-BATAN. Dua tahun di Departemen Komunikasi dan Informasi BEM STTN-BATAN telah banyak membantu dalam mengembangkan kemampuannya. Tahun pertama di departemen tersebut sebagai anggota, dirinya terbiasa membuat konten-konten grafis secara rutin untuk di-post di instagram resmi BEM STTN-BATAN. Tahun berikutnya ia menjadi Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi. Di tahun kedua, Bahari masih melanjutkan tugasnya sembari menekuni bidang sinematografi.  

 

Hari ini, Bahari menjadi salah satu mahasiswa STTN-BATAN yang diwisuda. Ia diwisuda setelah berhasil mempertahankan penelitiannya mengenai sistem pakar yang digunakan untuk mendeteksi motor induksi tiga fasa menggunakan algoritma neuro-fuzzy pada tanggal 19 Juli lalu. Meski lulus dengan IPK 3.41, dirinya mengaku masih merasa senang. Baginya nilai akademis bukanlah satu-satunya pencapaian selama masa kuliah, melainkan softskill juga. “Hari-hari setelah wisuda adalah medan perang kita yang sebenarnya. Bila nilai akademis adalah kuda perang maka softskill adalah senjatanya”, ujar Bahari bersemangat. (dab)



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • SDMIN 2018
Top
  • Follows us our servcies