Mendapat Beasiswa dari Pemerintah Provinsi, menjadi Cambuk bagi Gea untuk Berprestasi


Selasa, 04 September 2018 - 14:34:11 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 415 kali


(Yogyakarta, 4/9/18). Gea Fitria, gadis kelahiran 17 Februari 1996 ini merupakan salah satu mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN) yang menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dalam rangka memberikan pengetahuan kenukliran untuk putra/putri daerah. Baginya, beasiswa ini merupakan awal perjalanannya untuk merantau ke luar pulau, untuk menimba ilmu di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan sekaligus memperingan beban orang tua. “Beasiswa yang saya terima ini adalah hutang saya kepada rakyat, hasil saya dididik sekian tahun inilah yang akan saya bayarkan dalam bentuk pengabdian kepada rakyat, apapun bentuk pengabdiannya” ujar Gea.

 

Hidup merantau di Yogyakarta dan jauh dari orang tua maupun keluarga, tidak menyurutkan semangat belajar gadis 22 tahun ini. Gadis yang sering disapa Gea ini memilih Teknokimia Nuklir sebagai program studi yang dipelajarinya selama kurang lebih 4 tahun. Dengan semangat belajar yang tinggi dan kerja keras, Gea berhasil lulus dengan IPK 3.82 dan berpredikat cumlaude di wisuda STTN tahun 2018. Menurut Gea, untuk mendapatkan pencapaian terbaik dalam bidang akademik diperlukan rasa suka dan cinta terhadap mata kuliah yang diambil. Sesulit apapun mata kuliah tersebut, ketika kita berusaha menyukainya maka akan lebih mudah dipelajari dan diselesaikan, sehingga tidak akan ada kata tidak bisa pada mata kuliah tersebut.

 

Selama kuliahdi STTN-BATAN, Gea juga merupakan mahasiswa yang aktif dalam kegiatan non-akademik. Di tahun pertama, Gea menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) khususnya anggota Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) masa bakti 2015. Di tahun kedua, Gea dipercaya menjadi Kepala Departemen Internal Kampus (INKA) masa bakti 2016. Selain itu, Gea juga aktif dalam kepanitian berbagai acara yang diadakan di dalam kampus maupun di luar kampus diantaranya Seminar Nasional Sumber Daya Manusia dan Teknologi Nuklir (SDMTN) dan World Nuclear University (WNU).

 

“Saya mempelajari banyak hal selama sekian tahun saya menjabat diberbagai organisasi dan kepanitian, dari situ saya belajar betapa pentingnya komunikasi yang baik, networking yang semakin luas, dan tentunya keluar dari comfort zoneuntuk tujuan yang baik. Keluar dari zona nyaman, dalam artian saya belajar bahwa ada banyak potensi dalam diri yang perlu dikembangkan selain dibidang akademik selama kita mau dan berani mencobanya” ujar Gea.

 

Bulan Juli - Agustus 2017, Gea berhasil menjadi pionir untuk melaksanakan Internship Programme atau Kerja Praktik (KP) di Synchrotron Light Research Institute of Thailand (SLRI-Thailand) beserta 5 mahasiswa lainnya. Selama sebulan, Gea beserta 5 temannya menetap di Thailand dan menjalankan tugas sebagai Student Internship. Gea mengambil instrumen Small Angle X-ray Scattering (SAXS) sebagai instrumen yang akan dipelajarinya selama Internship Programme dilaksanakan.

 

“Banyak ilmu yang saya peroleh selama saya mengikuti program ini, dan tentunya ilmu ini belum tentu bisa saya dapatkan di bangku kuliah” ujar Gea. Selain itu, belajar berkomunikasi dengan bahasa Inggris setiap harinya selama sebulan juga merupakan tantangan tersendiri baginya. Berangkat dari program inilah Gea menjadi tertarik mempelajari lebih dalam ilmu terkait material khususnya material biomedis, dari itu Gea berharap bahwa apa yang dipelajarinya di Internship Program ini tidak berhenti begitu saja ketika program ini selesai, namun tetap akan diperdalam penguasaan materinya kedepan.

 

Ketertarikan Gea terhadap ilmu material, mengantarkannya untuk mengambil judul Tugas Akhir (TA) terkait dengan material biomedis. Berkat kemauan yang keras, Gea juga berhasil melanjutkan ilmu yang dipelajarinya selama KP menjadi ilmu yang dapat diterapkan selama TA,  yang lebih ke arah karakterisasi dan analisis material yang telah dihasilkan dalam sintesis.

 

Untuk yang kedua kalinya, pada bulan April 2018, Gea berangkat ke Thailand untuk melakukan riset selama seminggu menggunakan instrumen Small Angle X-ray Scattering (SAXS), SLRI-Thailand. Memerlukan suatu tingkat adaptasi yang tinggi untuk dapat bekerja di laboratorium yang berbeda dan menyelesaikan riset dalam jangka waktu seminggu. Tentunya perjuangan ini membuahkan hasil yang baik dan tepat pada tanggal 4 September 2018 Gea akan menjadi salah satu mahasiswi yang siap untuk diwisuda.

 

“Terkadang rasa takut untuk mencoba sesuatu yang baru menjadikan kita mundur satu langkah dari orang lain. Ketika rasa takut itu berlanjut maka akan banyak langkah kita tertinggal. Tugas kita adalah menghentikan rasa takut itu dan berusaha menikmati proses untuk mengejar ketertinggalan. Bukan masalah waktu kapan berakhir, namun bagaimana kita menghargai dan memaknai proses untuk apapun hasilnya, itulah yang terpenting,”ujar Gea. Prinsip hidup inilah yang menjadikan Gea dapat berdiri hingga saat ini dan membuat cerita hidupnya sendiri, selalu berusaha untuk belajar dan mengembangkan diri, seperti halnya salah satu quote dari Steve Jobs “stay hungry, stay foolish”.

 

Gea menjadi salah stau bagian wisudawan yang diwisuda pada 4 September 2018 ini. Ia berpesan kepada adik tingkat di STTN untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin, mengukir prestasi dan mengembangkan diri selama kuliah. “Banyak hal yang dapat digali dan terus untuk dikepo, baik secara akademik maupun non-akademik. Perbanyak membangun komunikasi yang baik antar teman sekelas, sekampus maupun teman di luar kampus, buat sesuatu yang baru dengan cara kita sendiri, karena unik itu menarik. Dan asah sebaik mungkin kemampuan bahasa inggris, karena itu salah satu gerbang peningkatan diri, practice makes perfect,” tutupnya. (dab)



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • SDMIN 2018
Top
  • Follows us our servcies