Ketua STTN : Sudah Seharusnya PT Menjalin Interaksi Efektif dengan Mahasiswa


Senin, 29 April 2019 - 06:06:05 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 56 kali


(Yogyakarta, 27/4/19). Perguruan tinggi adalah sebuah institusi pendidikan yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam unsur penunjang, antara lain mahasiswa, tenaga pendidik, serta tenaga kependidikan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, perguruan tinggi selain berkewajiban dalam bidang pendidikan dan pembelajaran dalam menerapkan Tridharma Perguruan Tinggi, juga memiliki kewajiban untuk menanamkan kepribadian dan jati diri bagi seorang mahasiswa sebagai bekal ke depannya. Perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan, menuntut kita juga terus berkembang. Efektifitas interaksi sosial yang dibangun oleh lingkungan, sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pendidikan. Begitupun dengan tuntutan interaksi sosial yang dibangun antara mahasiswa, tenaga pendidik serta tenaga kependidikan untuk menghasilkan mahasiswa berkarakter.

 

Mendasarkan pada hal tersebut, pada hari Jum’at 26 April 2019 bertempat di ruang rapat lantai IV, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) melaksanakan Focus Grup Discussion (FGD) terkait dengan pola interaksi sosial dalam perspektif psikologi bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan STTN dengan nara sumber Nur Fitriyani Hardi, M. Psi Psikolog.

 

Edy Giri Rachman Putra, Ph. D selaku Ketua STTN menyampaikan bahwa STTN ke depan akan menerapkan Human Reliability Program (HRP) / keandalan manusia, dimana lulusan tidak hanya bisa bekerja, tetapi harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja baru dan terus berkembang. Mensikapi hal tersebut, sudah seharusnya tenaga pendidik dan kependidikan menjalin interaksi sosial / komunikasi efektif, mengenal mahasiswa, menyatu dan merangkul mahasiswa, demi membangun mahasiswa berkarakter dalam lingkungan masyarakat. “Perkembangan zaman mau tidak mau sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dunia pergaulan maupun kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, sebagai tenaga pendidik dan kependidikan, sudah selayaknya kita membekali diri belajar cara berinteraksi dengan mahasiswa maupun masyarakat baik dari sisi agama, sosial maupun psikologi,” jelasnya.

 

Sementara itu, Nur Fitriyani dalam presentasinya menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pola interaksi adalah (1) Imitasi (suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap, tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang), (2) Sugesti (rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga ia melakukan apa yang disugestikan tanpa berfikir rasional), (3) Simpati (suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada orang lain karena penampilan, kebijaksaaan atau pola pikirnya sesuai dengan nilai yang dianut orang yang maruh simpati), dab (4) Empati (proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain).

 

Selain memaparkan tentang pola interaksi, Fitriyani juga menyampaikan terkait dengan ganguan psikologi, yaitu pola-pola abnormal yang meliputi gangguan dan fungsi psikologis atau perilaku seseorang. Kegiatan di tutup dengan diskusi bersama. (tek)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies