Nuclear Teaching Industry diperkenalkan dalam Seminar Nasional LAPAN


Jumat, 26 Juli 2019 - 13:22:44 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 215 kali


Puspiptek Serpong (23/07/2019). Seminar Nasional Penerbangan dan Antariksa Nasional ke 23 (SIPTEKGAN XXIII) 2019 yang dibuka oleh Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Prof. Thomas Djamaluddin berlangsung di Gedung Graha Widya Bhakti, DRN Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, dengan mengusung tema "Iptek Penerbangan dan Antariksa untuk Kemandirian Bangsa”. Seminar ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari berbagai instansi, lembaga litbang, perguruan tinggi, maupun sektor industri, bertujuan sebagai sarana untuk membangun integrasi dan kolaborasi penelitian, pengembangan, dan perekayasaan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa.

 

Sebagai tindaklanjut pertemuan dan diskusi sebelumnya antara staf dari Pusat Teknologi Roket (Pustek Roket) LAPAN dengan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN - BATAN) di Serpong dan Yogyakarta, maka dalam kesempatan Seminar Nasional ini, Ketua STTN – BATAN, Edy Giri Rachman Putra, Ph. D hadir sebagai salah satu pembicara kunci (keynote speaker) yang memberikan gambaran bagaimana STTN yang ke depannya akan menjadi Politeknik dan akan mengembangkan kurikulum Nuclear Teaching Industry (NTI) dalam bidang Non-destructive Test/Investigation (NDT/NDI).

 

Nuclear Teaching Industry  dalam bidang NDT/NDI ini dapat memanfaatkan metode nuklir/radiasi maupun non-radiasi untuk karakterisasi atau uji bahan yang sangat dibutuhkan oleh LAPAN dalam pengujian produk propelan, roket, motor roket, dan vellot, meliputi quality control dan standarisasi produksi roket. Aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nuklir seperti NDT dan iptek kedirgantaraan adalah bidang yang sangat strategis yang perlu dikuasai dalam rangka menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) yang unggul dan kompeten dalam menghasilkan produk-produk kedirgantaraan inovatif dalam menuju kemandirian bangsa. Sebelumnya STTN – BATAN telah melakukan pengujian specimen terkait uji roket dengan energi sampai dengan 200 kV menggunakan X-ray dan Direct Radiography (DR).

 

Kurikulum Nuclear Teaching Industry yang merupakan konsep pembelajaran untuk pengembangan dan peningkatan pendidikan vokasional dalam rangka mewujudkan sinergitas antara dunia pendidikan dan dunia industri termasuk industri kedirgantaraan, yaitu dengan pemindahan sebagian dari proses pendidikan dan proses industri dalam suatu desain pembelajaran sehingga terselenggara pendidikan berbasis kompetensi yang melahirkan SDM dan produk yang unggul dalam persaingan global. Untuk itulah, pengembangan Nuclear Teaching Industry dibidang non-destructive test/investigation di STTN – BATAN dapat membantu secara langsung program quality control dan standarisasi produksi roket yang dilakukan di LAPAN, yang tentunya juga akan bekerjasama dengan Pusat Standarisasi dan Mutu Nuklir (PSMN) – BATAN serta IAEA Collaborating Centre yang dimiliki BATAN, demikian paparan yang disampaikan Edy Giri.

 

Pengembangan kurikulum Nuclear Teaching Industry dibidang NDT/NDI ini telah didukung pula dengan ketersedian beberapa fasilitas baru di STTN – BATAN, seperti X-ray high energy (Betatron) dan image processing menggunakan Computed Radiography (CR) serta dokumen pendukungnya (ijin operasi) yang telah diberikan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan sertifikasi keahlian yang dimiliki oleh beberapa staf di STTN - BATAN. (egp)

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies