STTN Selenggarakan Kuliah Umum “Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Kampus”


Senin, 30 September 2019 - 14:22:42 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 43 kali


(Yogyakarta, 26/9/19). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) menyelenggarakan kuliah umum dengan tema pencegahan kekerasan di lingkungan kampus pada Kamis, 26 September 2019. Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium STTN tersebut diperuntukkan bagi pengurus BEM, HIMA, DPM, MM, perwakilan kelas serta panitia Makrab dengan jumlah peserta sekitar 90 orang. Tujuan kegiatan adalah agar peserta dapat memahami serta mengetahui potensi kekerasan di lingkungan kampus serta dapat melakukan pencegahannya.

 

Ir. Dwi Priyantoro, M. Si selaku pembantu ketua III bidang kemahasiswaan dalam sambutannya menyampaikan bahwa potensi kekerasan dimanapun itu ada. Oleh karena itu, kemampuan dalam mengelola diri adalah salah satu cara mencegah potensi kekerasan terjadi. “Kampus kami selama ini tenang, dan harapannya akan tetap tenang dan tidak terjadi masalah. Meskipun begitu, jika ada yang merasa ada masalah, silahkan membuat surat resmi kepada STTN, dan akan kami tindak lanjuti, sehingga cita – cita mahasiswa untuk belajar dengan baik akan terwujud,” jelasnya.

 

Dewi Julianti, SH dari Rifka Annisa selaku nara sumber dalam awalan materinya mengajak peserta untuk melakukan permainan dengan memilih pulau yang menjadi pilihannya, yaitu pulau setuju, tidak setuju atau ragu-ragu. Dalam permainan tersebut, peserta diminta untuk mengemukakan pendapatnya terhadap pulau yang dipilihnya dari setiap pertanyaan yang diajukan oleh nara sumber.

 

“Ada lima jenis bentuk kekerasan, yaitu kekerasan fisik, psikologis, seksual, ekonomi dan sosial,” jelasnya. Dewi juga menyampaikan bahwa faktor penyebab terjadinya kekerasan antara lain adalah miskomunikasi, ekonomi, cemburu, iri, pendidikan dan kemiskinan. Hal tersebut disebabkan oleh kontruksi gender (nilai menjadi perempuan dan nilai menjadi laki-laki). Adapun Efek kekerasan antara lain membuat tidak nyaman, efek fisik/psikis/ekonomi/sosial/seksual dan yang rentan menjadi korban adalah perempuan dan juga anak – anak.

 

Mengapa perempuan dan anak-anak lebih rentang mengalami kekerasan?. Hal tersebut disebabkan adanya relasi kuasa yang mendudukan laki-laki lebih tinggidaripada perempuan sehingga berakibat pada ketimpangan pada ekonomi, sosial dan politik. Lebih lanjut Dewi menjelaskan, jika teman mengalami kekerasan seksual maka hal yang harus segera dilakukan adalah jangan menyalahkan korban, berikan bantuan yang dibutuhkan, bantu korban mendokumentasikan bukti, berikan dukungan tanpa mengambil alih pengambilan keputusan korban, jaga privasi korban, serta dampingi korban untuk mencari dukungan dan bantuan. (tek)

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies