Webinar Daring STTN (1): Bedah Permendikbud No 3 tahun 2020


Senin, 15 Juni 2020 - 18:03:42 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 166 kali


(Yogyakarta, 15/6/20). Mahasiswa harus terus dibekali berbagai wawasan serta ketrampilan agar pada saatnya nanti siap memasuki dunia kerja. Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan kerangka untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

 

Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka tersebut sesuai dengan Permendikbud Nomor 3 tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yaitu adanya pembaharuan standar proses pembelajaran. Pasal 14 tentang metode dan bentuk-bentuk pembelajaran yang meliputi kuliah; responsi dan tutorial; seminar; praktikum, praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, praktik kerja; penelitian, perancangan, atau pengembangan; pelatihan militer; pertukaran pelajar; magang; wirausaha; dan/atau bentuk lain pengabdian kepada masyarakat. Pasal 15 menjelaskan tentang bentuk pembelajaran di dalam maupun di luar Program Studi, dapat dilakukan dalam Program Studi lain pada Perguruan Tinggi yang sama; Pembelajaran dalam Program Studi yang sama pada Perguruan Tinggi yang berbeda; Pembelajaran dalam Program Studi lain pada Perguruan Tinggi yang berbeda; dan Pembelajaran pada lembaga non Perguruan Tinggi. Pasal 18 tentang kewajiban Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi Mahasiswa memperoleh kompetensi lain diluar capaian pembelajaran program studi utama, salah satunya adalah tentang hak mahasiswa untuk belajar tiga semester di luar Program Studi.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Aris Junaidi, Ph. D (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Dirjen Dikti Kemendikbud) selaku narasumber dalam kegiatan webinar daring dengan tema “Bedah Badan Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Permendikbud No 3 tahun 2020” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) pada hari Kamis, 11 Juni 2020 yang diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari pejabat struktural dan akademik, dosen dan tenaga kependidikan STTN – BATAN.

 

Lebih lanjut Aris menyampaikan, bahwa pada pasal 18; institusi Pendidikan Tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela (dapat diambil atau tidak): dapat mengambil sks di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester (setara dengan 40 sks), dan ditambah lagi dapat mengambil sks di prodi yang berbeda di Perguruan Tinggi yang sama sebanyak 1 semester (setara dengan 20 sks). “Jika mahasiswa ingin menambah kompetensi diluar Program Studi, Institusi harus memfasilitasi, tidak boleh menolak. Namun, Mahasiswa masih boleh memilih, ingin tetap di capaian pembelajaran dari prodi asalnya (belajar konvensional), atau memilih untuk 3 semester (boleh 1 semester, atau 2 semester atau 3 semester) belajar di luar capaian pembelajaran prodinya,” jelasnya. Dengan kata lain sks yang wajib diambil di Program Studi asal adalah sebanyak 5 semester dari total semester yang harus dijalankan (tidak berlaku untuk prodi Kesehatan). Dalam hal ini dosen sebagai penggerak, dosen memfasilitasi pembelajaran mahasiswanya secara independen

 

Sementara itu, Edy Giri Rachman Putra, Ph. D selaku Ketua STTN dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa saat ini STTN sedang bersiap untuk melakukan perubahan kelembagaan dari Sekolah Tinggi menjadi Politeknik. “Ini merupakan langkah awal yang baik untuk menyusun strategi dalam rangka menyiapkan politeknik nuklir, yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia,” ungkapnya. (tek)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies