Webinar Daring STTN (2): Filosofi Pendidikan Tinggi Vokasi dan Pendekatan Kurikulumnya


Selasa, 23 Juni 2020 - 10:23:17 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 23 kali


(Yogyakarta, 19/6/20).  Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) kembali mengadakan webinar daring. Menghadirkan nara sumber Ir. Hotma Prawoto S, MT, IP.Md (Ketua Dewan Penasehat Forum Pendidikan Vokasi Indonesia, Direktur Project Implementation Unit UGM-JICA, Direktur Sekolah Vokasi UGM 2012-2016), webinar kali ini membahas tentang Filosofi Pendidikan Tinggi Vokasi dan Pendekatan Kurikulumnya. Selain diikuti pejabat struktural dan akademik, dosen serta tenaga kependidikan STTN – BATAN, kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 18 Juni 2020 tersebut juga diikuti oleh beberapa perwakilan stakeholder, baik dari instansi pemerintah (satuan kerja lain di BATAN) maupun dari industri.

 

Edy Giri Rachman Putra, Ph. D selaku Ketua STTN menyampaikan bahwa dengan akan berubahnya STTN menjadi Politeknik serta wacana adanya kampus merdeka, menjadi momentum penting bagi STTN untuk mempersiapkan kurikulum serta perencanaan pendidikannya ke depan. “Jika selama ini kita berfokus pada SDMnya saja, maka saatnya diubah menuju kompetensi yang dihasilkan. Oleh karenanya, peran industri dalam penyusunan kurikulum sangat penting,” jelasnya.

 

Sementara itu, Hotma selaku narasumber menyampaikan bahwa pendidikan tinggi vokasional adalah pendidikan yang berorientasi pada penerapan ilmu untuk menyelesaikan problem secara praktis namun sistematik dan terukur. Pada pendidikan vokasi, kemampuan softskill dan hardskill porsinya harus seimbang sehingga dapat menghasilkan lulusan yang tangguh, kreatif dan inovatif.

 

Hotma juga memaparkan tentang konsep pembelajaran vokasi, yaitu keahlian yang dimiliki harus berbasis pada ilmu guna membentuk SDM Indonesia yang memiliki daya saing untuk menjadi pemenang di era global. Hal tersebut dapat terwujud dengan cara pengendapan pengetahuan (basic, skill, practical), pematangan keahlian dalam batas-batas tertentu (layak disertifikasi) serta pematangan sikap (attitude). “Jangan menjadi monkey see, monkey do, yaitu orang yang tidak memahami filosofi pekerjaannya, tidak menikmati pekerjaannya dan tidak memiliki daya juang,” jelasnya.

 

Hotma juga menjelaskan tentang konsep kurikulum pada pendidikan tinggi vokasional dan peranan stakeholders di dalam penyusunan kurikulum. Keterlibatan stakeholder harus sampai pada penerapan ilmu. Teaching Industry merupakan wadah bagi industri dan Perguruan Tinggi untuk bersama melakukan penyusunan kurikulum. Pada pendidikan vokasi, mental kewirausahaan harus dibangun. Pada pendidikan vokasi, jangan alergi dengan kurikulum transisi, karena pendidikan vokasi adalah pendidikan kompromi untuk pengajaran lebih baik.

 

Sebagai akhir dari materinya, Hotma menyampaikan kesimpulan bahwa agar dapat terwujud link & match antara pendidikan tinggi vokasi dengan stakeholders, maka pengelolaan program atau pendidikan vokasi harus benar-benar terpisah dari program akademik, yaitu memiliki otoritas untuk membangun pendidikan vokasi yang sehat melalui jejaring kemitraan serta memandirikan program atau pendidikan vokasi sejajar atau setara dengan kemandirian program akademik menjamin perkembangan pendidikan tinggi vokasi sesuai yang seharusnya (tek)

 

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
Top
  • Follows us our servcies