SDMIN 2020 : Perubahan Mindset Pendidikan Vokasi dan Industri


Selasa, 17 November 2020 - 13:30:07 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 46 kali


(Yogyakarta, 16/11/20). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) menyelenggarakan Seminar Nasional SDM dan Iptek Nuklir (SDMIN) dengan tema Nuclear Teaching Industry: Sarana Inovasi dan Sinergi Perguruan Tinggi Vokasi dengan Industri, Sabtu 14 November 2020. Seminar yang diselenggarakan secara virtual / daring melalui platform zoom dan juga disiarkan secara langsung melalui youtube sttnbatan tersebut merupakan ajang komunikasi dan sharing antara akademisi, praktisi, komunitas, dan pemerintah sebagai langkah awal mengubah mindset serta karakter penyelenggaraan pendidikan vokasi yang harus bersinergi dengan industri, untuk membangun SDM unggul dan berdaya saing global, khususnya dibidang kenukliran. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber, Wikan Sakarinto, M.Sc., PhD. (Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI), Dr. Vera Verkhuturova (Deputy Director, Engineering School of Nuclear Science and Technology Tomsk Polytechnic University, Rusia), Ir. Ramzy Siddiq Amier, Magister K3 (Direktur PT. Supraco Indonesia), acara dibuka oleh Kepala BATAN, Prof. Dr. Anhar Riza Antariksawan dan diikuti sekitar 350 peserta.

 

Anhar menyampaikan bahwa SDM adalah pilar utama dari perkembangan teknologi. Hal tersebut sesuai dengan salah satu tujuan pemerintah saat ini, yaitu mencapai SDM yang unggul. “STTN menjadi kendaraan bagi BATAN untuk menyiapkan SDM unggul, dengan tujuan selain untuk keperluan internal BATAN, juga untuk mendukung perkembangan iptek nuklir di luar,” ungkapnya. STTN diharapkan akan menyumbang tenaga-tenaga ahli yang kompeten dan ahli dibidangnya, terutama dari sisi yang lebih bersifat terapan / aplikatif. Lebih lanjut, Anhar berharap semoga STTN bisa segera berubah menjadi Politeknik agar lebih fokus untuk mengembangkan pendidikan vokasinya dalam menghasilkan sarjana teknik terapan yang semakin unggul.

 

Sementara itu, Ramzy Siddiq Amier dalam presentasinya menyampaikan materi tentang respon dan kontribusi industri terhadap konsep Teaching Industry pada pendidikan tinggi vokasi. Ramzy menyampaikan terkait dengan kesiapan masyarakat Indonesia dalam menyongsong era industri 5.0, dimana manusia akan bekerjasama dengan robot dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang cepat, akurat, beresiko, dll. Untuk itu, dibutuhkan lulusan-lulusan yang memiliki softskill yang baik, dalam memasuki era tersebut nanti melalui pendidikan yang terintegrasi dengan kebutuhan industry.

 

Vera Verkhuturova menyampaikan tentang profil Engineering School of Nuclear Science and Technology dari Tomsk Polytechnic University, Rusia. Vera juga menyatakan bahwa kolaborasi antara universitas dan industri mutlak diperlukan. Secara umum, industri, apalagi industri nuklir tidak dapat berkembang dengan baik jika tidak ada kerjasama dengan universitas. “Jika perguruan tinggi tidak bekerja sama dengan industri, maka perguruan tinggi tersebut dapat dikatakan gagal dalam melaksanakan pendidikannya,” ungkapnya.

 

Wikan Sakarinto menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan terkait pendidikan vokasi yang dikeluarkan dari Kemendikbud untuk mendorong kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri. Menurutnya, “Link and Match” antara Perguruan Tinggi dengan industri itu harus sampai menikah, menghasilkan sebuah produk bersama, bukan hanya sekedar tanda tangan MoU. Lebih lanjut Wikan menjelaskan bahwa industri harus diajak bersama dalam menyusunan kurikulum, menerima pemagangan mahasiswa dan dosen, ikut mengajar dan memberikan project based learning kepada mahasiswa dalam rangka meningkatkan softskill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Penguatan softskill juga menjadi penting dalam pendidikan vokasi selain penguatan hardskill.

 

Pada kesempatan lain, Ketua STTN, Edy Giri Rachman Putra, Ph. D menjelaskan bahwa saat ini, STTN sedang dalam tahapan perubahan menjadi politeknik untuk segera mengambil peran penting sebagai perguruan tinggi vokasi yang spesifik dibidang kenukliran dalam membantu memencahan persoalan yang dihadapi bangsa. STTN ke depan harus menghasilkan lulusan yang semakin kompeten khususnya di bidang teknologi nuklir serta berkarakter untuk siap menghadapi tantangan dunia kerja di era kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang sangat cepat. “STTN-BATAN menawarkan konsep Nuclear Teaching Industry (NTI) sebagai bentuk perwujudan Link & Match sinergi yang kuat antara perguruan tinggi vokasi dengan industri,” ungkapnya. (tek/smail)

 



Berita Terkait:

0 Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
  • IKM STTN
Top
  • Follows us our servcies