Ketua STTN: Perubahan Paradigma STTN, Momentum Menuju Visi 2045


Kamis, 24 Desember 2020 - 11:32:35 WIB
Diposting oleh : taurina eka
Kategori: Berita STTN - Dibaca: 1276 kali


(Yogyakarta, 23/12/20). Pada hari Sabtu, 19 Desember 2020 bertempat di Java Village Resort, Yogyakarta, Senat Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) melaksanakan persetujuan dan penetapan beberapa dokumen standar pelaksanaan kegiatan di STTN, yaitu Standar Tridharma, Rencana Induk Pengembangan (Renip) 2020 - 2045, Rencana Strategis (Renstra) 2020 - 2024, konsep Nuclear Teaching Industry (NTI) serta pedoman Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Kegiatan dilaksanakan dengan diawali pembahasan bersama antara Senat dengan Tim Penyusun Dokumen pada tanggal 17 - 19 Desember 2020.

 

Edy Giri Rachman Putra, Ph. D selaku Ketua STTN menyampaikan bahwa sesuai dengan visi Indonesia tahun 2045 yaitu SDM unggul untuk peningkatan produktivitas dan daya saing menuju Indonesia maju. Hal tersebut telah dijabarkan sebagai kebijakan pemerintah bahwa pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 – 2024 difokuskan pada pembangunan SDM melalui pendidikan, yang merupakan salah satu rencana strategis dalam membenahi diri dalam melakukan transformasi fundamental selain di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, dan juga kesehatan.

 

“Sistem pendidikan nasional harus mengedepankan nilai-nilai ke-Tuhanan dalam menghasilkan SDM yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia, serta unggul dalam menguasai teknologi dan inovasi,” ungkap Edy Giri mengutip pidato tahunan presiden RI tanggal 14 Agustus 2020. Oleh karenanya, STTN yang merupakan perguruan tinggi vokasi saat ini harus segera mengembangkan kurikulum berbasis NTI. NTI merupakan salah satu model pendekatan pembelajaran berbasis kebutuhan industri dengan konsep menyajikan model pembelajaran berbasis produk (barang atau jasa) melalui sinergi STTN dengan industri untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini STTN terus berupaya untuk meningkatkan kualitas lulusannya yang terdidik, terlatih dan tersertifikasi sehingga dapat memenuhi regulasi pasar dan kebutuhan industri ke depannya.

 

“Pola pikir dan etos kerja kita sebagai penyelenggara pendidikan harus berubah dahulu sebelum menghasilkan SDM unggul untuk meningkatkan daya saing, menuju Indonesia maju. Kurikulum baru harus berbasis kebutuhan industri, yang berarti para pendidik dan tenaga kependidikan harus memahami kompetensi lulusan yang dibutuhkan industri dan kemudian menyiapkan kurikulumnya” ungkap Edy Giri. Menguatkan hal tersebut, Edy Giri menambahkan bahwa dengan rencana perubahan menjadi politeknik, hal tersebut merupakan momentum bagi STTN untuk melakukan telaah keprofesian dan keahlian, profil lulusan, capaian pembelajaran, pemilihan bobot bahan kajian dan lainnya, bersama-sama dengan industri maupun pengguna lulusan. Lebih lanjut, Edy Giri menjelaskan bahwa dalam Renstra Kemendikbud 2020 – 2024, telah ditegaskan bahwa dengan melakukan revitalisasi pendidikan tinggi vokasi indikator capaian dalam pembangunan SDM, akan terlihat dari kualitas lulusannya, kualitas pendidiknya, serta kualitas kurikulum dan pembelajarannya.

 

Dalam kesempatan yang sama, STTN juga menghadirkan dua narasumber terkait dengan pembahasan program RPL oleh Ratih Purwanti, S.Si, M.Sc dari Politeknik Kesehatan Permata Indonesia, Yogyakarta dan program NTI oleh Prof. Darsono dari Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA – BATAN). (tek)

 

 



Berita Terkait:

Komentar :


Isi Komentar:
  • Nama :
  • Website :
  • Komentar :
  • (Masukkan 6 kode diatas)
  • Badan Pengawas Tenaga Nuklir
  • JURNAL FORUM NUKLIR
  • BATAN
  • Tracer Alumni
  • IKM STTN
Top
  • Follows us our servcies